Perempuan itu tergugu saat kedua kakinya sudah menapak pelataran di dalam ruang Stasiun Pasarturi dimana kereta bisnis jurusan Jakarta Surabaya itu menghentikan perjalanannya beberapa menit yang lalu . Seperti tak puas dan tak percaya, dia mencoba untuk tetap mencari dan menunggu suara itu terdengar. Tapi, beberapa menit menunggu sehingga menimbulkan beberapa orang menengoknya dengan tatap bingung dan sedikit protes karena keterpakuannya itu jelas mengganggu penumpang lain yang bergegas akan meninggalkan ruang dalam stasiun..
Ada tatap resah dan helaan napas kecewa pada wanita usia lima puluhan itu. Sepasang matanya masih mencari-cari dan lagi-lagi wajahnya yang masih tampak menyisakan kecantikan masa mudanya itu terguguh. Sebegitu dilupakannyakah kenangan setiap kaki penumpang menjejak ruang tunggu Stasiun Pasar Turi? Atau jangan-jangan operatornya terlupa atau barangkali piringan hitam lagu itu sudah rusak? Tapi, kan bisa ditranfer pada CD atau apalah namanya, toh, file Proklamasi Kemerdekaan sudah demikian lama masih saja bisa diputar dan suaranya masih bisa dinimati oleh kaum muda untuk mengingatkan bahwa di tanah tercinta mereka dulu pernah ada proklamasi yang memberikan kebangkitan pada bangsa yang sudah lama terjajah itu menjadi sebuah negara yang merdeka.
Wanita itu masih berusaha untuk bertahan dari tempat berdirinya, tak perduli pada pandangan orang yang lewat dan seakan mempertanyakannya, kenapa dirinya masih mematung? Ah, orang banyak yang berlalu lalang itu tak akan pernah tahu,bahwa kedatangannya ke Surabaya ini sengaja dia naik kereta api karena ada keinginan untuk mengenang masa lalu.Masa yang telah hampir tiga puluh tahun dilaluinya dan selama ini dirinya tenggelam dalam urusan rumah tangga bersama sang suami dan anak-anaknya non jauh dari negeri tercinta Indonesia, suaminya telah memboyongnya ke Amerika,dan pernikahan yang berjalan tanpa restu itu membuatnya sulit datang ke tanah kelahirannya Surabaya.
Tapi hari ini dia pulang ke tanah kelahirannya yang telah lama ditinggalkannya,walau hanya pusara kedua orang tuanya yang telah memutus tali silaturahmi karena dia memilih menikah dengan bule dan menolak jodoh yang telah diperuntukkan, yang akan ditemuinya. Dan tiket pesawat yang telah tersedia dari Jakarta tujuan Surabaya tak ia pergunakan, karena sudah sangat rindu akan saat-saat dia ketika pulang dari Jakarta ke Surabaya sebelum pernikahannya terjadi dengan Hansens , penyambutan spesial dari Stasiun Pasar Turi...
Penyanbutan yang diharapkannya tak kunjung datang dan wanita itu seperti marah tapi kemarahan itu hanya disimpannya dalam dadanya yang menahan getar. Ada pedih dan ada resah yang tak alang kepalang karena penyambutan spesial yang diharapkannya tak ada sampai dia menghabiskan waktu 30 menit hanya mematung menunggu ...
Lalu hatinya gemuruh dan berdesis sambil mengenang saat-saat dirinya masih muda ketika pulang dari Jakarta untuk mudik ke orang tuanya setelah setahun menjalani rutinitas bekerja pada seorang tetangga yang tinggal di Jakarta sebagai pengasuh anaknya. Getaran dadanya semakin bertalu saat bibirnya mengumandangkan lagu penyambutan yang selalu dilantunkan oleh Stasiun Pasar Turi yang kini tak lagi dipergunakan itu.
"Surabaya...oh Surabaya... oh Surabaya...
Kota kenangan.... kota kenangan ...yang tak kan terlupa..."
Wanita itu tak menyadari kalau air matanya deras mengalir mengiringi getar dadanya serta kerinduannya akan lagu penyambutan yang pernah dirasakannya setiap kakinya turun dari kereta api yang membawanya pulang mudik. Beberapa orang menoleh tapi wanita itu terus menikmati masa yang hilang dengan lagu penuh kenangan itu dan bibirnya masih berdesis melantunkan lagu penyambutan yang telah terlupakan itu...


No comments:
Post a Comment