Salah satu pemenang favorit lomba cerpen Remaja Rohto 2011
Rosida
Arum duduk di hadapan ibunya di ruang tamu rumahnya yang masih berciri bangunan khas Madura, dengan bagian depan yang dibiarkan terbuka tanpa pintu dengan atap rumah menyerupai bentuk joglo. Bau tanah setelah turun hujan menyeruak hidung. "Rum..." pangil ibunya. Perempuan berkebaya yang telah berusia empat puluh tahun itu tak mengalihkan tatapannya dari sulaman taplak meja yang hampir selesai.
"Ya, Bu..." sahut Arum. Sesaat tadi ia melamun. "Bagaimana sudah dipikirkan jalan keluarnya?" Arum menghela napas panjang menunduk.
"Kalau Ibu menyerahkan padamu semuanya karena toh nanti kamu yang akan menjalaninya, Nak. Dipikirkan lagi supaya tidak menyesal. Dipikrikan dengan kepala dingin."
Arum memang dalam pertimbangan yang membuatnya gulana. Baru dua hari lalu namanya tercantum sebagai guru honorer di sekolah dasar negeri yang terletak di Lenteng, sebuah pedesaan yang terletak sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota Sumenep tempat tinggalnya. Walau baru diterima sebagai guru honorer dan disebuah desa pula, namun gadis lulusan sekolah guru itu sangat bangga. Cita-citanya untuk mengabdi sebagai tenaga pendidik terkabul sudah. Namun cita-cita yang baru akan dilaksanakan minggu depan secara resmi dirinya dilantik sebagai guru sudah mendapat terpaan angin yang cukup keras. Arum tak boleh terhempas dan gadis berumur dua puluh satu tahun itu berusaha untuk tetap tegar . Ainur kekasihnya yang sejak kuliah tinggal di Surabaya itu akan melamarnya. Bukan hanya melamar bertunangan, tapi pemuda sarjana kimia yang bekerja di sebuah perusahaan cukup bonafide di Gresik itu akan menikahinya dua bulan lagi dan langsung akan memboyong Arum ke Gresik, hal yang menjadi pertimbangan bagi Arum karena dia baru akan mengembangkan karirnya sebagai guru. Ada sebagian keluarga dari pihak ibunya yang berpendapat bahwa tempat isteri itu di samping suaminya, jadi kalau Arum setelah pernikahannya memilih tetap tinggal di Sumenep karena berat dengan profesinya sebagai guru jelas tidal dibenarkan, itu diucapkan oleh Mak Nah adik sepupu dari pihak ibunya.
“Lagipula si Ainur itu kan sarjana, Rum, pasti kamu akan hidup senang walau tidak bekerja, atau barangkali nanti kamu bisa menjadi guru di Gresik, siapa tahu..?” Masukan dari Pak Lik Dullah, adik kandung dari pihak bapaknya Arum. Ah, semua tak mengerti perasaanku, pekik hati Arum. Semua hanya memandang akan kesarjanaan mas Ainur dan kemapanan hidup dia, sedangkan pendidikanku yang kutempuh dengan jerih payah Ibu yang hanya sebagai ibu rumah tangga tanpa karir, tak mereka perhitungkan. Pilu Arum berkeluh dalam hatinya. Arum sangat menghargai jerih payah ibunya yang sangat ingin Arum meraih pendidikan yang lebih tinggi dari sekedar sekolah lanjutan atas,”Biar Ibu berjualan makanan tak masalah yang penting kamu terus bersekolah,Rum,” begitu ucap ibunya yang sudah ditinggal meninggal sang suami sejak Arum masih berumur tujuh tahun, beliau memilih tak menikah lagi, memang begitulah kebanyakan orang Madura, jika ditinggal mati sang suami sulit untuk membina kembali rumah tangga dengan lelaki lain, terlebih kalau sudah memiliki anak. Paling tidak ibunya Arum type perempuan yang masih kuno,paling tidak begitulah kira-kira kata orang karena tak mau menerima pinangan lelaki lain supaya beban hidupnya lebih ringan dalam membesarkan Arum. Walau ibunya tak melarang untuk tidak melanjutkan menjadi guru di Lenteng, toh, Arum tak mau begitu saja melupakan keinginannya menjadi guru di desa, dan membuang begitu saja rupiah demi rupiah yang dikumpulkan ibunya demi membiayai sekolah dan kehidupannya sehari-hari.
“Bu rasanya Mas Ainur tidak suka, tuh kalau saya nanti tinggal di sini sementara dia di Gresik, dia bilang saya akan dibawa ke Gresik dan akan dicarikan sekolah kalau memang tetap akan menjadi guru,” ujar Arum mengadukan hasil rundingannya tentang keinginannya menjadi guru, minggu kemarin dengan Ainur calon suaminya.
Kali ini ibunya memandang Arum,”Nah bagaimana menurutmu, Nak?”
“Saya sedang mempertimbangkannya, Bu,” sejujurnya Arum ingin tetap melanjutkan dilantik sebagai guru di Lenteng. Lagipula dirinya berat hati meninggalkan ibunya sendirian di Sumenep , ibunya yang setiap pagi berjualan lontong sayur kelor sayur khas Madura dan nasi lemak(nasi uduk) itu tak ingin jauh dari kuburan suaminya. Arum tak sampai hati meninggalkan sendiri ibunya di rumah mereka, walau pun banyak saudara yang tinggal berdekatan.
“Ya,Ibu berharap kebahagiaanmu, Nak, hanyakebahagiaanmu yang Ibu pikirkan selama ini, lakukan yang terbaik untukmu, Arum,” sangat bijaksana pemikiran perempuan yang tak sempat menamatkan sekolah dasarnya itu karena faktor keadaan waktu itu dimana pendidikan belum merupakan kebutuhan yang utama dalam keluarganya yang kebanyakan bergadang dan tuntutan menikah muda adalah hal yang kerap menjadi panutan oleh para gadis seusianya waktu itu. Namun ibunya Arum masih sempat menamatkan sekolah madrasanya dan sempat pula menjadi guru mengaji sebelum memasuki pernikahannya pada usianya yang ke sembilan belas tahun. Itu pun sudah termasuk usia paling tua diantara keluarga besarnya saat beliau menikah. Karena beberapa saudara perempuannya atau sepupunya juga termasuk adik kandungnya sendiri menikah di suia lima belas atau enam belas tahun waktu itu. Arum menatap ibunya yang sudah memutus benang dari bahan sulamannya dan menimang hasil sulamannya, rupanya pekerjaan yang dikerjakan diwaktu senggang itu sudah rampung. Gadis itu bangga akan pemikian ibunya yang bijaksana, walau tinggal di Sumenep dan dikelilingi oleh keluarga yang masih berpedoman bahwa seorang isteri harus manut pada suaminya. Dimana suami tinggal disanalah isteri mengabdikan hidupnya.
Dalam hal dirinya ini sudah menjadi perbincangan di keluarga besar ibunya yang sebagian besar mereka menyumbang pendapat bahwa sebaiknya Arum mundur saja dari pelantikan karena rencananya toh dua bulan ke depan mau menikah lalu ikut suami saja, dan memberikan tempatnya pada calon guru lainnya. Arum tak sepaham dengan mereka walau dia tak menyatakan dalam perlawanan suara. Dua hari mengikuti tes yang diawasi oleh Penilik Sekolah untuk dapat lolos saringan menjadi guru sekolah dasar, walau masih dalam tahapan honorer. Lolos saringan bersama beberapa calon guru lainnya, haruskah ini dilepaskan begitu saja?
“Saya akan membicarakannya dengan Mas Ainur, Bu,” ujar Arum berharap calon suaminya itu mau mengerti akan keinginannya itu.
“Bicarakanlah baik-baik jangan sampai kalian saling bersitegang, Rum.” Ibunya berdiri sambil melipat taplak meja sulamannya yang sudah selesai,”Ibu mau Sholat Ashar dulu, kamu sudah sholat, Rum?” Ditatapnya putri tunggalnya itu, dia bangga dalam hati, selain cantik Arum memiliki sikap lembut dan sopan serta sangat perhatian pada anak-anak yang belum mendapat kesempatan bersekolah.
“Saya menyusulk, Bu,” jawab Arum,”:Oh ya Ibu sudah memetik daun pisang, biar saya yang akan ke tegal,m Bu,” segera dia berdiri untuk mengambil pisau ke dapur dan mengambilkan beberapa tangkai daunpisang untuk dijadikan pembungkus lontong dagangan ibunya.
Biasanya setelah lepas Sholat Magrib ibunya mulai melakukan pembuatan lontong untuk dagagannya besok pagi. “Hati-hati, Rum,” pesan ibunya sambil berjalan ke dalam
“Ya, Bu,” angguk Arum menyusul ibunya mau mengambil pisau dulu ke dapur.
Sabtu sore minggu berikutnya Ainur pulang kampung seperti biasa. Perjalanan dari Gresik ke Sumenep Madura yang memakan waktu sekitar lima jam itu, tak membuat Ainur kelelahan bila setiap sabtu pulang menengok orang tuanya dan sekaligus melepas rindu pada sang kekasih tercinta. Sore yang sejuk karena siangnya baru turun hujan itu, sepasang kekasih itu duduk di salah satu bangku di Taman Adipura yang merupakan taman kebanggaan dan pusat keramaian kota Sumenep. Angin bertiup sepoi menggoyang dedaunan yang basah di sebelah tempat mereka duduk. Hingga memercikkan titik air ke wajah Arum. Ainur tergelak saat menatap wajah kekasihnya terkena cipratan kecil itu. Arum tersenyum dan perlahan menghapus basah kecil di wajahnya. Beberapa anak muda melintas di sekitar mereka mencari tempat duduk yang kering.
“Rum jadi kamu Senen lusa dilantik?” Suara Ainur seperti biasa tak terdengar kecewa walau Arum belum menyanggupi untuk tidak melanjutkan menjadi guru.
Arum sendiri memang tak sampai hati untuk mundur dari hari pelantikannya. Senen ini dua hari lagi dirinya memang dilantik menjagi guru honorer. “Maafkan aku, Mas karena aku belum mengambil keputusan untuk mundur, aku…”
Tangan Ainur mengambil sehelai daun yang hinggap di rambut hitam kekasihnya karena tertiup angin . Angin bertiap lagi, , sejuk walau beberapa percik air dari beberapa daun yang saling bergerak itu menerpa mereka. Keduanya saling pandang dan sama-sama tersenyum beberapa percik air dari beberapa daun yang saling bergerak itu menerpa mereka. “Rum aku mau bicara denganmu,” suara Ainur seperti biasanya, tenang dan menatap Arum dengan penuh kasih.
Dada Arum berdebar, apakah yang akan dibicarakan kekasihnya ini tentang kekecewaaan p\emuda itu akan keputusannya yang tetap melanjutkan untuk dilantik hari senen sebagai guru? Atau jangan-jangan Ainur hanya mengijinkan dirinya jadi guru sampai pada batas pernikahan mereka berlangsung saja, setelah itu maka Arum diharuskan minta berhenti dari pekerjaannya membagi ilmu pada anak-anak calon pemimpin bangsa itu. Karena harus mengabdikan seluruh hidupnya sebagai seorang ister. Dan seperti yang telah dikatakan Ainur sebelumnya, bahwa jika memang masih ingin menjadi guru, ia bisa mencarikan sekolah dasar di Gresik tempat tinggal mereka nanti. Arum berdebar menunggu apa gerangan yang akan diucapkan Ainur. Sedangkan Ainur masih berdiam seperti memberi kesempatan pada Arum untuk berandai-andai tentang gerangan apa yang akan dikatakannya
“Aku tahu pasti Mas Ainur kecewa karena aku…”
“Bukan itu, Rum…”:
“Aku minta maaf, Mas , bukannya aku membangkang calon suamiku, tapi aku…”
“Rum…” Ainur menyentuh lembut punggung tangan Arum,”Ada hal serius yang harus kuberitahukan padamu,” potong Ainur menatap lurus ke manik mata sang kekasih yang selalu saja menerbitkan kesejukan, bak air telanga yang tak pernah kering.
“Hal serius?” Arum menunggu dan dadanya masih berdebar, apa masalah kegigihannya mempertahankan pelantikan senen lusa ini? Karena soal dirinya diterima sebagai guru di Lenteng bukan rahasia lagi. Seluruh kampung sudah tahu dan bahkan keluarga besarnya pun sudah mempertanyakan kelanjutan karir mengajarnya pasca pernikahannya nanti yang rencannanya akan dilangsungkan dua bulan mendatang dan keluarga Ainur sudah bersiap-siap untuk datang melamar. Apakah keluarga besar calon suaminya pun iktu mempertimbangkan soal pelantikannya dua hari lagi? Apakah mereka meminta pada Ainur untuk mencegah pelantikan itu jika masih ingin pernikahann itu dilanjutkan atau paling tidak seperti yang diperkirakan tadi, keluarga besar kekasihnya itu akan memberi ultimatim sebuah perjanjian sebelum pernikahan terjadi. Bahwa setelah menikah dirinya harusmundur dari profesi guru dan ikut suami ke Gresik!
“Pertama aku salut pada kegigihan perjuanganmu untuk dapat menjadi guru, dan kamu lulus saringan dan tetap ingin menjadi guru di Lenteng,” ujar Ainur.
Arum masih diam tapi dadanya tetap berdebar. Kalau dia dihadapkan pada pilihan yang diperkirakannya tadi, bagaimana? Dia sangat mencintai Ainur, pemuda itu tetap santun dan sederhana walau telah lulus sebagai sarjana Kimia dan bekerja di sebuah perusahaan bonavide di Gresik dan tak lupa kampung halamannya yang setiap satu dan minggu didatanginya. Lalu dirinya pun sangat ingin sekali jadi guru di kampungnya sendiri walau pun kini ditempatkan di sebuah pedesaan. Duh, sulit sekali pilihan yang harus dihadapinya…
“Bulan depan aku harus berangkat ke Amerika,” ujar Ainur,”Dua tahun aku di sana,”
Arum terkesima menatap Ainur lekat dan wajahnya agak tegang. Bibirnya terkatup tak bisa bersuara. “Ini keputusan perusahaan\ mengirimkan aku ke Amerika untuk tugas belajar dan kemungkinan setelah pulang barulah kita melangsungkan pernikahan kita, tapi sebelum berangkat aku dan keluargaku akan melamarmu dulu dan mengikatmu sebagai tunanganku, Rum,”
Arum menarik napas legah, wajahnya tidak tegang serpti tadi lagi. Sorot matanya kembali tenang sejuk seperti biasanya. Ada rasa bangga dalam dadanya betapa kekasihnya ini memperoleh kepercayaan dari perusahaan untuk menambah ilmu.
“Kamu tidak kecewa, kan?” Ainur meremas jemari Arum sesaat, dan dilepaskan saat ada dua mata yang meliriknya dari seorang yang sedang menikmati suarasana sore yang berjalan di sampingnya. “Selamat,Mas Ainur… selamat… aku sangat senang mendengarnya…”
“Tapi pernikahan kita ditunda,” ujar Ainur, karena tak mungkin dia melakukan pernikahan mendadak apalagi membawa Arum ke Amerika. Karena dalam surat yang telah diterbitkan perusahaan bahwa keberangkatannya hanya sendiri tidak disertai oleh siapa pun.
“Aku menyerhakan semua keputusan padamu, Mas,” angguk Arum,”Mungkin ini juga sudah isyarat dari Yang Maha Kuasa bahwa aku harus berkarir dulu menjadi guru di Lenteng,” ada senyum manis di bibir Arum,karena dengan demikian tak ada yang harus dikecewakan., tidak juga dirinya begitu pun dengan Ainur. Mereka masing-masing harus berkarir sesuai bidang masing-masing.
“Ya, tapi kamu janji, ya, setelah aku pulang dari Amerika, nanti kita menikah dan aku akan mengusahakan supaya kamu bisa dipindahkan ke Gresik dan tetap berkarir sebagai guru di sana,” pinta Ainur dengan kerling matanya.
Arum tak perlu menjawab karena dia tahu semua akan dijalaninya dengan baik dan dia berharap cinta dan citanya akan tetap sempurna berjalan hingga mencapai kebahagiaan seperti yang selalu saja dipanjatkannya pada Tuhan.
“Oke, Bu Guru, bagimana?” Arum menganggguk dengan bahagia
“Senen ini aku ingin menyaksikan pelantikanmu,” ujar Ainur,”Dan aku akan bangga memandang calon isteriku menjadi seorang guru dan mengenakan seragam guru,” sambungnya dengan nada penuh bangga. “Tapi Mas Ainur, kan sudah harus kerja hari Senen ini,” ujar Arum mengingatkan karena biasanya setelah sabtu datang ke Sumenep, maka Minggu malam Ainur akan pulang kembali ke Gresik untuk melakukan aktivitasnya sebagai karyawan .
“Khusus pelantikan calon isteriku mejadi guru aku sudah minta ijin untuk datang terlambat ke kantor, dan begitu aku sudah memberimu kata selamat,maka aku langsung berangkat ke Gresik,”
Arum tanpa sadar meraih tangan Ainur dan meremasnya penuh cinta, tanpa suara ditatapnya mata kekasihnya itu dengan isyarat bahagia yang tak terkirakan.
Tiba-tiba gerimis turun dan belum sempat mereka mencari tempat berteduh gerimis itu telah berubah menjadi hujan dan keduanya bergandeng tangan berlari keluar dari lingkungan Taman . Karena Taman Adipura cukup luas, maka sepasang kekasih itu sudah basah kuyup saat sampai di pinggir jalan…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment