Cerita bersambung bag. 1
Bab. 1
Ironi bagi
jiwa yang terpasung
Fatimah berdiri
terpaku menatap seperangkap alat gamelan yang teronggok sepi dan membisu serta
dingin di dalam ruangan. Hatinya perih mengingat sudah empat pekan alat
tradisional yang menjadi kebanggaan ayahnya
tak lagi tersentuh tangan kekar lelaki yang telah menghabiskan waktu dua
puluh lima tahun bersama alat berkesenian tercintanya itu. Sakban sang ayah
memberinya nama group saronen yang memang terlahir bukan dari tangan orang kota
tapi saronen itu identik dengan masyarakat pedesaan itu dengan nama ‘Saronenna
Ate’ atau tabuhannya hati. Dengan mogoknya sang ayah untuk menabuh gamelannya
atau kembali bersaronen,itu artinya keempat anggota Saronenna Ate pun akan
menganggur. Dan memang seperti juga Sakban, keempat anak buahnya itu kini fokus
bersawah atau berladang,sambil menunggu keputusan resmi dari pimpinan mereka
akan nasibnya sebagai anggota di Saronenna Ate itu.
Gadis berkerudung itu menyentuh alat yang terbuat dari kuningan sedikit dilapisi kayu
jati itu. Hatinya terasa nyerih. Ada irisan dalam kalbunya yang mengalirkan pedih tanpa mengucurkan darah. Terbayang jiwa ayahnya yang terpasung oleh keadaan dan kenyataan yang harus diterima. Demi menjadikan anak gadisnya calon menantu seorang Kyai Haji Mustafa yang disegani oleh masyarakat bukan saja dari Sumenep dimana lelaki berdarah ningrat itu bertempat tinggal. Namun Kyai yang masih keturunan Pangeran Sumenep itu sangat dicintai dan disegani oleh masyarakat pedesaan pula, karena ceramah beliau sangat mengena di hati mereka. Bahkan Sang Kyai adalah sosok terhormat dan tercatat sebagai salah satu ulama yang namanya sangat dikenal di Pulau Madura.
Ironis yang dirasakan Fatimah tentang ayahnya yang mau tak mau menggantung gong saronennya yang selama berkesenian selalu saja mengiringinya berjoget dan ngejung, menyanyikan lagu Madura yang seirama dengan saronen yang ditabuh oleh tangannya dengan penuh cinta bersama anggota lainnya. Kini jiwa berkesenian itu harus dilupakan untuk selamanya, karena anak gadisnya telah memikat putra seorang ulama Madura yang bernama Imam Bin Mustafa atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Imam.
Air mata Fatimah mengaliri kedua pipinya yang ranum. Geliat rindu akan suara ayahnya tak lagi dapat dinikmatinya. Gerakan jogetan ayahnya dalam iringan tabuhan saronen di sepanjang jalan saat
ditanggap untuk mengiringi sapi kerapan. Atau saat mereka ditanggap oleh sebuah
instansi pemerintah mau pun swasta ketika mengadakan peringatan hari
tertentu.
Gemetar jemarinya menyentuh peralatan yang mulai berdebu karena sudah lebih
dari sebulan tak tersentuh pemiliknya itu. Ada geletar pedih pada uluh hatinya
mengingat kelanjutan nasib berkesenian ayahnya. Ada rasa bersalah dalam dadanya telah merampas hak ayahnya untuk berkreasi di bidang yang dicintainya. Ada sakit yang melemparkannya pada sesal dan bersalah saat memergoki ayahnya melamun sendirian di sudut halaman belakang rumahnya yang
luas yang berseberangan dengan ladang jagung milik kaenya itu
(kaenya=kakeknya=Madura)
Memang Sakban telah menyatakan ikhlas untuk mengakhiri jiwa
berkeseniannya sebagai pemain saronen. Namun ungkapan itu jelas sangat dipahami
oleh Fatimah yang sangat mengerti betapa jiwa ayahnya sebenarnya sangat terluka, tapi semua ditahan dan diikhlaskan demi anak gadisnya yang akan diambil menantu seorang Kyai terhormat.
"Tim jangan terlalu dipikirkan masalah saronen ini,ya..." ujar Sakban bulan lalu saat dia menutup seluruh gamelannya dengan terpal."Kebahagiaanmu yang Eppak utamakan, Bing...(Neng..=Madura)," tak ada nada penyesalan pada kedua mata ayahnya.
"Pak... tapi..."
"Sudahlah, tidak bagus kalau seorang Kyai Terhormat seperti Kyai Haji Mutafa berbesan dengan seorang tukang saronen..." lirih suara Sakban,"Mereka orang terhormat dan Eppakmu ini hanya tukang saronen, diterima sebagai besan saja merupakan sesuatu yang sangat janggal, Bing..." ada kebahagiaan yang luar biasa dalam suara yang tergetar dan raut muka penuh haru itu menatap putri tunggalnya, betapa tidak, anak gadisnya, anak seorang tukang saronen akan diambil mantu seorang Kyai terhormat di kota. Jelas sebuah karunia yang tak terhingga dan derajad putrinya akan meningkat seiring dengan meningkatnya statusnya sebagai tunangan apalagi sampai menjadi isteri Gus Imam nanti. Begitulah buah pikiran seorang Sakban yang memiliki pola pikir sederhana.
Fatimah terharu dan menatap raut muka ayahnya yang berwarna kehitaman karena sering terjemur matahari di ladang menanam singkong sebagai kegiatan hari-harinya selain bermain saronen. Sepasang mata itu menatapnya ikhlas dan bahagia. Tapi hati kecilnya merasakan suatu getar lain dalam pandangan ayahnya itu. Dia sangat tahu siapa ayahnya, dirinya pun pecinta saronen seperti ayahnya yang telah mengajarkannya berkesenian dan mengalirkan jiwa seni pada dirinya.
Di dalam lubuk hati ayahnya ada rasa kehilangan yang dalam. Dan Fatimah tahu apa yang telah hilang dalam jiwa ayahnya yang sebenarnya membuat pedih serta perih namun tertutup oleh keinginan mengantarkan dirinya pada gerbang bahagia menjadi menantu seorang kyai. Keinginan luhur seorang ayah dari golongan rakyak kebanyakan seperti sebagian besar keluarganya yang hampir semuanya tinggal di pedesaan karena nenek moyangnya memang asli orang desa, petani atau berladang. Jika dibandingkan dengan keluarga Gus Imam yang berasal dari kota serta golongan ningrat serta masih keturunan Pangeran Sumenep itu, jelas seperti bumi dan langit. Tapi cinta telah mempertemukan keduanya dan cinta itu pula yang telah membuat sang ayah harus rela melupakan saronen hatinya. Mengkikhlaskan sebagian jiwanya terkubur bersama suara gamelan yang kerap membuatnya rindu itu.
bersambung

No comments:
Post a Comment