Sponsored by

News Update :

Kyai Saronen /Cerber

Wednesday, March 21, 2012


Kyai Saronen bagian 2

oleh; Rosida


Ringkasan bagian 1

Ayah Fatimah yang bernama Sakban harus meredam jiwa berkeseniannya.Sebagai pemain Saronen kesenian dari Pulau Madura, dia  harus merelakan profesi yang sangat dicintainya itu demi anaknya yang akan bersanding dengan Gus Imam putra salah seorang Kyai di Sumenep yang masih keturunan Pangeran Sumenep itu. Namun rupanya Fatimah merasa tak rela jika ayahnya harus melepaskan jiwa berkesenian yang sangat dicintai lelaki berasal dari rakyat kebanyakan dan tinggal di desa Talango yang berjarak tempuh sekitar tiga belas kilometer dari pusat kota Sumenep.


Kyai Saronen bagian 2

Tiba-tiba saja jiwa Fatimah pun berontak, ada hentakan yang begitu kuat dalam nalurinya untuk melindungi jiwa berkesenian ayahnya. “Jangan… jangan mati jiwa bersekenian Eppakku…jangan…!” Pilu hatinya menjerit dan air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya.
      Fatimah sangat paham jika ayahnya akan melepaskan berkeseniannya, lelaki yang dilahirkan dari keturunan seni dari pihak kakeknya atau Kaenya itu harus tunduk pada derajad seorang Kyai yang pamornya sangat harum di Sumenep. Hal itu dimaklumi oleh Fatimah. Namun gadis berkerudung itu merasa tak sanggup melihat ayahnya terjerembab dalam diam. Menangis dalam hati karena harus dijauhkan dari kesenian yang begitu dicintainya. Derajad seorang Kyai Haji Mustafa yang masih keturunan Pangeran Sumenep memang tak boleh dipandang sebelah mata. Tapi, bagaimana pun ayahnya harus memiliki kebebasan untuk berkreasi.
         Fatimah terlahir dari keturunan penyuka gamelan.Kakeknya yang dipanggil Kae itu puluhan tahun lalu adalah ketua ludruk yang bernama Sinar Hati, dimana para pemainnya terdiri dari kaum pria dan Sakban ayahnya adalah salah satu pemain dari Sinar Hati yang saat itu laris manis ditanggap dari desa ke desa,bahkan beberapa kali manggung di alun-alun pusat Kota Sumenep sebelum alun-alun yang terletak di depan Mesjid Agung itu dijadikan Taman Kota atau Taman Adipura. Namun dengan berkembangnya jaman ludruk Sinar Hati tak dapat mempertahankan popularitasnya, bersama grup ludruk lainnya terpuruk dan tak lagi terdengar gaungnya. Maka Sakban yang memiliki jiwa seni keturunan dari ayahnya itu kemudian beralih pada kesenian saronen,dimana bersaronen sudah dijalaninya selama dua puluh tahun lebih.
        Bukan itu saja, Fatimah masih ingat saat dirinya berumur sepuluh tahun beberapa kali ikut ayahnya berlenggak-lenggok sepanjang jalan diiringi alunan saronen yang dipimpin ayahnya itu. Seringkali itu terjadi dan biasanya saronen milik ayahnya mengiringi sapi yang akan dikerap. Bahkan Fatimah  bersama Saronen Ate beberapakali diundang untuk meramaikan ulang tahun dari isntansi pemerintah atau untuk menyambut kedatangan pejabat tertentu dari Surabaya atau kota lainnya yang bertandang ke Sumenep.
          Jiwa berkesenian itu pun sudah tertanam pula dalam diri Fatimah walau pun gadis itu tak melanjutkan menjadi penyanyi atau penari seperti masa kecil lyang kerap diajak bergabung oleh ayahnya jika ditanggap orang saronennya. Namun Fatimah memilih menjalani profesi sebagai guru sekolah dasar di Talango dan tetap mendukung kegiatan ayahnya bersaronen. Tapi kini karena akan dilamar Gus Imam semua jiwa kesenian ayahnya diredam. Dan Fatimah tahu apa yang harus dilakukannya untuk ayah tercintanya.
          Ditutupnya kembali alat gemelan itu dengan hati gundah dia melangkah ke ladang yang tak jauh dari rumahnya. Pastilah saat ini ayahnya sedang menebang pohon jagung yang baru dipanen kemarin. Benar saja, Sakban memang ada di sana. Lelaki itu sedang mengayunkan arit ke batang pohon jagung yang sudah dipanen.
          Fatimah menatap hamparan ladang jagung yang cukup luas dan milik dari Haji Tabrani yang memang diserahkan pada ayahnya untuk menjalani pertanian jagungnya itu. Ayunan arit di tangan Sakban pasti dan mantap menjatuhkan beberapa batang pohon jagung ke tanah. Dalam pandangannya seakan setiap ayunan arit yang mengenai batang jagung itu seolah ayahnya melepaskan emosi jiwa yang tertekan tapi tak berdaya untuk melawan. Tangan Sakban begitu tangkas dan terus menerus melakukan kegiatannya sehingga puluhan batang jagung sudah rata dengan tanah.
     Angin bertiup semilir dan beberapa daun jagung yang belum terputus oleh arit di tangan Sakban meliuk-liuk bagai tarian seorang penari yang sedang mengikuti irama saronen yang sedang dimainkan sekelompok orang, tanpa sadar bibir Fatimah tersenyum dan liukan dedaunan itu tiba-tiba terkulai oleh arit yang membabatnya.Fatimah terkejut, hal itu mengingatkan akan diri ayahnya yang terkulai lemah tak berdaya tergilas oleh keadaan yang sedang dihadapinya
        “Pak…” Fatimah sedikit mengeraskan suaranya.
       Sakban menoleh dan tertawa melihat Fatimah berdiri di bawah pohon mangga yang rindang. Dia sangat bangga akan kecantikan putrinya yang berkulit bersih menuruni kulit isterinya.  Ujung kerudung yang dikenakan Fatimah melambai-lambai tertiup angin, hal mana membuatnya tertegun terbayang saat Fatimah masih gadis kecil dan melenggang lenggok memainkan seledang mengikuti irama saronen yang dimainkannya. Senyum bangga sang isteri melengkapi seruan kagum para penonton di sepanjang jalan menyaksikan gemulainya gerakan gerangan tangan Fatimah memainkan selendang warna merah cabe yang tersampir di pundaknya saat itu. Sakban tersenyum dengan mata berkaca-kaca bahagia ingat akan kenangan saat itu dan Fatimah tahu-tahu sudah di depannya melihatnya menangis.
       “Nah kenapa Pak menangis?”
      Sakban segera menghapus air matanya dengan lengan bajunya yang lusuh itu.
      “Pak…” desah Fatimah menuntut jawab dari sang ayah.
     “Pak ingat sewaktu kamu masih kecil berjoget dengan gemulai sepanjang jalan diiringi saronen…”
     Fatimah tertawa kecil,”Ya, saya juga suka ingat itu,Pak, saya berjoget…Pak ngejung dan sapi yang mau dikerap berjalan seperti penganten yang kita arak ya,Pak…”
“Ya…” angguk Sakban yang tak menyadari kalau ucapannya itu sangat mengiris jiwa putrinya.Ucapan itu secara tak langsung telah membuat Fatimah semakin yakin kalau jiwa ayahnya memang tengah pedih karena harus terejam oleh keadaan yang katanya menyesuaikan tatanan kesopanan serta kehormatan seorang Kyai Haji Mustafa yang akan menjadi besannya nanti.
“Pak sudah berapa lama tidak main saronen?” Fatimah bertanya.
Sakban yang akan mengayunkan aritnya ke batang di depannya menghentikan ayunan aritnya di udara. Menoleh pada Fatimah,”Hampir sebulan, Bing…”
“Pak kangen mau main saronen?” Santai Fatimah bertanya.
Sakban menatap putrinya lekat. Ada gurat muram pada kedua matanya. Raut mukanya yang yang beberapa detik lalu itu cerah tiba-tiba saja menjadi redup seperti menyimpan timbunan sayatan yang memerihkan kalbunya.
“Ah Eppak sudah melupakannya, Bing…” dan muka yang menanggung perih itu pun kini berubah menjadi sebuah pancaran wajah ikhlas dan penuh ketabahan.
Fatimah tersenyum,”Pak nanti akan saya buatkan kopi dan goreng singkong di rumah, ya…” dia tahu kalau ayahnya berbohong tentang ucapan terakhirnya barusan.
“Ya, sebentar lagi Eppak istirahat,” angguk Sakban seperti sudah berdamai dengan gemuruh hatinya dan tampaknya mereka pun telah melupakan percakapan tentang saronen.
“Saya pulang dulu mau buatkan kopi tubruk sama goreng singkong ya,Pak,”
Sakban mengangguk, karena anaknya itu memang sering menyiapkan cemilan saat dirinya istirahat dari kegiatan meladangnya. Dan Fatimah pun langsung membalikkan badan meninggalkan Sakban yang masih memandangnya penuh cinta dan penuh kebahagiaan. Bagaimana tak bahagia jika sang putri tak lama lagi akan dilamar oleh putra seorang bangsawan yang terhormat serta terpandang? Bila dibandingkan dengan dirinya yang hanya buruh tani serta pemain saronen apalah arti keberadaannya sebagai orang desa tak berpendidikan pula?
Sakban merelakan apa pun yang akan dikorbankan asalkan putrinya bahagia. Termasuk jiwa berkeseniannya pun telah ia pertaruhkan untuk masa depan putrinya. Walau untuk itu ada nanah yang mengalir dari luka diatas luka di dalam kalbunya karena harus membekukan bahkan mengubur jiwa keseniannya itu.
Marni isterinya Sakban datang membawakan goreng singkong dan kopi tubruk yang dijanjikan Fatimah tadi. Diletakkannya nampan berisi cangkir kopi dan sepiring potongan singkong goreng itu di atas bale-bale di bawah rindang pohon mangga tak pinggir ladang dimana Sakban mendekat.
“Fatima kemana,Mak?” Sakban mencomot sepotong goreng singkong yang masih agak panas itu.
“Tadi dia mau mengantarkan kopi dan singkong yang baru digorengnya ini ke sini,Pak, tapi saya ambil sekalian saya mau membantu Sampiyan menebas batang jagung ini,” jawab isterinya sambil mengambil alih arit di tangannya dan tiba-tiba saja terdengar alunan gamelan yang dimainkan dari dalam rumahnya.
Sakban yang akan duduk di bale-bale untuk  istirahat tertegun menoleh ke rumahnya, begitu pun dengan Marni yang telah siap melangkah dengan arit di tangannya untuk menebas batang jagung tercengang. Alunan gamelan itu semakin nyaring mereka tahu siapa yang memainkannya.
“Fatimah…khuk…khukkk…!” Sakban terbatuk-batuk keselek goreng singkong yang sedang ditelannya. Sakban sangat paham bahwa putrinya itu sangat berbakat dalam soal tabuhan gamelan dan beberapa kali turut membantu menjadi tenaga pengganti sebagai penabuh gamelan saat ada anggota Saronen Ate yang berhalangan hadir saat ditanggap orang karena sakit.
“Ya…” Marni bergumam
Kemudian suami isteri itu meninggalkan ladang untuk melihat Fatimah yang sedang menabuh gamelan…
                                                 
Share this Article on :

No comments:

Post a Comment

 

© Copyright West Java News 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Powered by Blogger.com.