Kyai Saronen bagian 2
oleh; Rosida
Ringkasan bagian 1
Ayah Fatimah yang bernama Sakban
harus meredam jiwa berkeseniannya.Sebagai pemain Saronen kesenian dari Pulau
Madura, dia harus merelakan profesi yang
sangat dicintainya itu demi anaknya yang akan bersanding dengan Gus Imam putra
salah seorang Kyai di Sumenep yang masih keturunan Pangeran Sumenep itu. Namun
rupanya Fatimah merasa tak rela jika ayahnya harus melepaskan jiwa berkesenian
yang sangat dicintai lelaki berasal dari rakyat kebanyakan dan tinggal di desa
Talango yang berjarak tempuh sekitar tiga belas kilometer dari pusat kota
Sumenep.
Kyai Saronen
bagian 2
Tiba-tiba saja
jiwa Fatimah pun berontak, ada hentakan yang begitu kuat dalam nalurinya untuk
melindungi jiwa berkesenian ayahnya. “Jangan… jangan mati jiwa bersekenian
Eppakku…jangan…!” Pilu hatinya menjerit dan air matanya semakin deras mengalir
di kedua pipinya.
Fatimah
sangat paham jika ayahnya akan melepaskan berkeseniannya, lelaki yang
dilahirkan dari keturunan seni dari pihak kakeknya atau Kaenya itu harus tunduk
pada derajad seorang Kyai yang pamornya sangat harum di Sumenep. Hal itu
dimaklumi oleh Fatimah. Namun gadis berkerudung itu merasa tak sanggup melihat
ayahnya terjerembab dalam diam. Menangis dalam hati karena harus dijauhkan dari
kesenian yang begitu dicintainya. Derajad seorang Kyai Haji Mustafa yang masih
keturunan Pangeran Sumenep memang tak boleh dipandang sebelah mata. Tapi,
bagaimana pun ayahnya harus memiliki kebebasan untuk berkreasi.
Fatimah
terlahir dari keturunan penyuka gamelan.Kakeknya yang dipanggil Kae itu puluhan
tahun lalu adalah ketua ludruk yang bernama Sinar Hati, dimana para pemainnya
terdiri dari kaum pria dan Sakban ayahnya adalah salah satu pemain dari Sinar
Hati yang saat itu laris manis ditanggap dari desa ke desa,bahkan beberapa kali
manggung di alun-alun pusat Kota Sumenep sebelum alun-alun yang terletak di
depan Mesjid Agung itu dijadikan Taman Kota atau Taman Adipura. Namun dengan
berkembangnya jaman ludruk Sinar Hati tak dapat mempertahankan popularitasnya,
bersama grup ludruk lainnya terpuruk dan tak lagi terdengar gaungnya. Maka
Sakban yang memiliki jiwa seni keturunan dari ayahnya itu kemudian beralih pada
kesenian saronen,dimana bersaronen sudah dijalaninya selama dua puluh tahun
lebih.
Bukan
itu saja, Fatimah masih ingat saat dirinya berumur sepuluh tahun beberapa kali
ikut ayahnya berlenggak-lenggok sepanjang jalan diiringi alunan saronen yang
dipimpin ayahnya itu. Seringkali itu terjadi dan biasanya saronen milik ayahnya
mengiringi sapi yang akan dikerap. Bahkan Fatimah bersama Saronen Ate beberapakali diundang
untuk meramaikan ulang tahun dari isntansi pemerintah atau untuk menyambut
kedatangan pejabat tertentu dari Surabaya atau kota lainnya yang bertandang ke
Sumenep.
Jiwa
berkesenian itu pun sudah tertanam pula dalam diri Fatimah walau pun gadis itu
tak melanjutkan menjadi penyanyi atau penari seperti masa kecil lyang kerap
diajak bergabung oleh ayahnya jika ditanggap orang saronennya. Namun Fatimah
memilih menjalani profesi sebagai guru sekolah dasar di Talango dan tetap
mendukung kegiatan ayahnya bersaronen. Tapi kini karena akan dilamar Gus Imam
semua jiwa kesenian ayahnya diredam. Dan Fatimah tahu apa yang harus
dilakukannya untuk ayah tercintanya.
Ditutupnya
kembali alat gemelan itu dengan hati gundah dia melangkah ke ladang yang tak
jauh dari rumahnya. Pastilah saat ini ayahnya sedang menebang pohon jagung yang
baru dipanen kemarin. Benar saja, Sakban memang ada di sana. Lelaki itu sedang
mengayunkan arit ke batang pohon jagung yang sudah dipanen.
Fatimah
menatap hamparan ladang jagung yang cukup luas dan milik dari Haji Tabrani yang
memang diserahkan pada ayahnya untuk menjalani pertanian jagungnya itu. Ayunan
arit di tangan Sakban pasti dan mantap menjatuhkan beberapa batang pohon jagung
ke tanah. Dalam pandangannya seakan setiap ayunan arit yang mengenai batang
jagung itu seolah ayahnya melepaskan emosi jiwa yang tertekan tapi tak berdaya
untuk melawan. Tangan Sakban begitu tangkas dan terus menerus melakukan kegiatannya
sehingga puluhan batang jagung sudah rata dengan tanah.
Angin
bertiup semilir dan beberapa daun jagung yang belum terputus oleh arit di
tangan Sakban meliuk-liuk bagai tarian seorang penari yang sedang mengikuti
irama saronen yang sedang dimainkan sekelompok orang, tanpa sadar bibir Fatimah
tersenyum dan liukan dedaunan itu tiba-tiba terkulai oleh arit yang membabatnya.Fatimah
terkejut, hal itu mengingatkan akan diri ayahnya yang terkulai lemah tak
berdaya tergilas oleh keadaan yang sedang dihadapinya
“Pak…”
Fatimah sedikit mengeraskan suaranya.
Sakban
menoleh dan tertawa melihat Fatimah berdiri di bawah pohon mangga yang rindang.
Dia sangat bangga akan kecantikan putrinya yang berkulit bersih menuruni kulit
isterinya. Ujung kerudung yang dikenakan
Fatimah melambai-lambai tertiup angin, hal mana membuatnya tertegun terbayang
saat Fatimah masih gadis kecil dan melenggang lenggok memainkan seledang
mengikuti irama saronen yang dimainkannya. Senyum bangga sang isteri melengkapi
seruan kagum para penonton di sepanjang jalan menyaksikan gemulainya gerakan
gerangan tangan Fatimah memainkan selendang warna merah cabe yang tersampir di
pundaknya saat itu. Sakban tersenyum dengan mata berkaca-kaca bahagia ingat
akan kenangan saat itu dan Fatimah tahu-tahu sudah di depannya melihatnya
menangis.
“Nah
kenapa Pak menangis?”
Sakban
segera menghapus air matanya dengan lengan bajunya yang lusuh itu.
“Pak…”
desah Fatimah menuntut jawab dari sang ayah.
“Pak
ingat sewaktu kamu masih kecil berjoget dengan gemulai sepanjang jalan diiringi
saronen…”
Fatimah
tertawa kecil,”Ya, saya juga suka ingat itu,Pak, saya berjoget…Pak ngejung dan
sapi yang mau dikerap berjalan seperti penganten yang kita arak ya,Pak…”
“Ya…”
angguk Sakban yang tak menyadari kalau ucapannya itu sangat mengiris jiwa
putrinya.Ucapan
itu secara tak langsung telah membuat Fatimah semakin yakin kalau jiwa ayahnya
memang tengah pedih karena harus terejam oleh keadaan yang katanya menyesuaikan
tatanan kesopanan serta kehormatan seorang Kyai Haji Mustafa yang akan menjadi
besannya nanti.
“Pak
sudah berapa lama tidak main saronen?” Fatimah bertanya.
Sakban
yang akan mengayunkan aritnya ke batang di depannya menghentikan ayunan aritnya
di udara. Menoleh pada Fatimah,”Hampir sebulan, Bing…”
“Pak
kangen mau main saronen?” Santai Fatimah bertanya.
Sakban
menatap putrinya lekat. Ada gurat muram pada kedua matanya. Raut mukanya yang
yang beberapa detik lalu itu cerah tiba-tiba saja menjadi redup seperti
menyimpan timbunan sayatan yang memerihkan kalbunya.
“Ah
Eppak sudah melupakannya, Bing…” dan muka yang menanggung perih itu pun kini
berubah menjadi sebuah pancaran wajah ikhlas dan penuh ketabahan.
Fatimah
tersenyum,”Pak nanti akan saya buatkan kopi dan goreng singkong di rumah, ya…”
dia tahu kalau ayahnya berbohong tentang ucapan terakhirnya barusan.
“Ya,
sebentar lagi Eppak istirahat,” angguk Sakban seperti sudah berdamai dengan
gemuruh hatinya dan tampaknya mereka pun telah melupakan percakapan tentang
saronen.
“Saya
pulang dulu mau buatkan kopi tubruk sama goreng singkong ya,Pak,”
Sakban
mengangguk, karena anaknya itu memang sering menyiapkan cemilan saat dirinya
istirahat dari kegiatan meladangnya. Dan Fatimah pun langsung membalikkan badan
meninggalkan Sakban yang masih memandangnya penuh cinta dan penuh kebahagiaan.
Bagaimana tak bahagia jika sang putri tak lama lagi akan dilamar oleh putra
seorang bangsawan yang terhormat serta terpandang? Bila dibandingkan dengan
dirinya yang hanya buruh tani serta pemain saronen apalah arti keberadaannya
sebagai orang desa tak berpendidikan pula?
Sakban
merelakan apa pun yang akan dikorbankan asalkan putrinya bahagia. Termasuk jiwa
berkeseniannya pun telah ia pertaruhkan untuk masa depan putrinya. Walau untuk
itu ada nanah yang mengalir dari luka diatas luka di dalam kalbunya karena
harus membekukan bahkan mengubur jiwa keseniannya itu.
Marni
isterinya Sakban datang membawakan goreng singkong dan kopi tubruk yang
dijanjikan Fatimah tadi. Diletakkannya nampan berisi cangkir kopi dan sepiring
potongan singkong goreng itu di atas bale-bale di bawah rindang pohon mangga
tak pinggir ladang dimana Sakban mendekat.
“Fatima
kemana,Mak?” Sakban mencomot sepotong goreng singkong yang masih agak panas
itu.
“Tadi
dia mau mengantarkan kopi dan singkong yang baru digorengnya ini ke sini,Pak,
tapi saya ambil sekalian saya mau membantu Sampiyan menebas batang jagung ini,”
jawab isterinya sambil mengambil alih arit di tangannya dan tiba-tiba saja
terdengar alunan gamelan yang dimainkan dari dalam rumahnya.
Sakban
yang akan duduk di bale-bale untuk
istirahat tertegun menoleh ke rumahnya, begitu pun dengan Marni yang
telah siap melangkah dengan arit di tangannya untuk menebas batang jagung
tercengang. Alunan gamelan itu semakin nyaring mereka tahu siapa yang
memainkannya.
“Fatimah…khuk…khukkk…!”
Sakban terbatuk-batuk keselek goreng singkong yang sedang ditelannya. Sakban
sangat paham bahwa putrinya itu sangat berbakat dalam soal tabuhan gamelan dan
beberapa kali turut membantu menjadi tenaga pengganti sebagai penabuh gamelan
saat ada anggota Saronen Ate yang berhalangan hadir saat ditanggap orang karena
sakit.
“Ya…”
Marni bergumam
Kemudian
suami isteri itu meninggalkan ladang untuk melihat Fatimah yang sedang menabuh
gamelan…

No comments:
Post a Comment